Kesbangpol Kubu Raya adakan Dialog Kerukunan Antar Umat Beragama

By Administrator // Selasa, 16 Oktober 2018 // 03:28 WIB // BERITA KUBU RAYA

Kubu Raya – Pemerintah Kabupaten Kubu Raya melalui Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Kubu Raya, mengumpulkan sejumlah tokoh agama di Kubu Raya, guna berdiskusi dan dialog bersama tentang kerukunan umat beragam dalam keberagaman. Kepala Kesatuang Bangsa dan Politik Kubu Raya, Hakiman menjelaskan, Pluralitas agama di era globalisasi yang menjadi karakteristik dari bangsa Indonesia yang heterogen tidak bisa dipungkiri, memiliki potensi dan peran yang sangat besar dalam proses integrasi dan pembngunan karena didasarkan pada ajaran agama yang mewajibkan umatnya untuk mencintai sesame dan hidup rukun dalam keberagaman.

Menurutnya, pluralism agama juga mengandung potensi terjadinya konflik, disintegrasi bangsa, ketika melihat masing-masing agama memiliki klaim keberadaan absolut dan muatan emosi keagamaan yang menjadi dasar interaksi primer. Untuk menghindari terjadinya konflik yang dilator belakangi oleh perbedaan agama dan keyakinan ditengah keberagaman masyarakat dalam satu kebangsaan, Pemerintah Kubu Raya memandang perlu membangun dan merawat serta terus menjaga kerukunan antar umat beragama yang merupakan nilai universal. Dimana semua manusia melalui agamanya diaharapkan dapat hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, saling menghormati, saling toleransi dan bekerjasama dalam menangani persoalan kemanusiaan. “Untuk menjaga keutuhan kerukunan umat beragama yang plural di Kubu Raya, dipandang sangat perlu adanya suatu langkah untuk saling mengenal diantara agama-agama melalui forum dialog antar umat beragama,” ujar Hakiman.

Hakiman mengatakan ada beberapa factor yang dapat mempengaruhi terhambatnya kerukunan umat beragama diantaranya, warisan politik imperialism fanatisme dangkal, sikap sentiment, cara-cara agresif dalam penyebaran agama, pengaburan nilai-nilai agama antara satu agama dengan yang lainnya, munculnya sikap-sikap yang mengklaim bahwa hanya dirinya yang paling benar dengan menganggap dirinya adalah selalu yang benar dan yang lain salah. Oleh sebab itu, pengajaran keagamaan hendaknya meninggalkan pikiran absolutistic, bersikap moderat dan toleran serta menerima pluralisme. “Kehidupan beragama yang dinamis merupakan factor dasaryang bersifat menentukan bagi terwujudnya stabilitas nasional, persatuan, kerukunan, perdamaian dan ketenagan hidup masyarakat, sangat membawa manfaat yang sangat besar. Manfaat dimaksud paling tidak terjaminnya serta dihormatinya iman dan identitas mereka oleh pihak lain, serta terbuka peluang untuk membuktikan keagungan agama mereka masing-masing dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” ujar Hakiman.

Oleh sebab itu, untuk tetap menjaga kerukunan antar umat beragama di Kubu Raya, diharapkan peran serta para tokoh-tokoh agama untuk bersama-sama membangun komunikasi yang aktif serta parsipasi aktif untuk melakukan pembinaan terhadap masyarakat dikomunitas, kelompok dan lingkungan masing-masing.

Share Post: